Kepariwisataan: Cara Baru Mensejahterahkan Masyarakat Daerah


Berbicara mengenai kepariwisataan tentunya bagi mereka yang belum memahami arti kata ini menjadi sangat sulit untuk menerjemahkannya terlebih menangkap berbagai peluang emas yang dihasilkannya. Dalam Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan “Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Pengusaha.” (Pasal 1 ayat 4).

Selanjutnya dalam pasal 3, Kepariwisataan berfungsi memenuhi kebutuhan jasmani, rohani, dan intelektual setiap wisatawan dengan rekreasi dan perjalanan serta meningkatkan pendapatan negara untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. (a) Memperkenalkan, mendayagunakan, melestarikan, dan meningkatkan mutu obyek dan daya tarik wisata; (b) Memupuk rasa cinta tanah air dan meningkatkan persahabatan antar bangsa;
Memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja; (c) Meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. (d) Mendorong pendayagunaan produksi nasional.

Sedangkan tujuan Kepariwisataan dalam pasal 4, untuk:

  • meningkatkan pertumbuhan ekonomi
  • meningkatkan kesejahteraan rakyat
  • menghapus kemiskinan;
  • mengatasi pengangguran.
  • melestarikan alam, lingkungan, dan sumber daya
  • memajukan kebudayaan
  • mengangkat citra bangsa
  • memupuk rasa cinta tanah air
  • memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa, dan
  • mempererat persahabatan antar bangsa

Peluang Kepariwisataan sungguh sangat luar biasa dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah. Apapun bisa dijual oleh daerah (masyarakat di kecamatan dan di desa-desa) di seantero bumi Nusantara Indonesia. Tulisan saya ini, bertujuan untuk mengajak kita semua untuk kembali memikirkan potensi apa saja yang ada di tempat bapak/ibu/saudara sekalian, yang sekiranya dapat dipromosikan dan olehnya masyarakat di daerah boleh menikmati hasilnya. Coba pahami kembali tujuan Kepariwisataan sebagaimana terdapat dalam UU No.10 Tahun 2009 di atas.

Saya mendorong kita semua untuk bangkit dan segera mengidentifikasi potensi-potensi unggulan yang sekiranya bisa di angkat ke publik dan bisa dinikmati oleh orang lain. Ayo, jangan berdiam diri. Saat ini waktunya untuk mempromosikan tempat tinggal kita masing-masing. Jangan bekerja sendiri, tetapi bekerjalah secara team, sehingga pekerjaan kita dalam membangun dan mempromosikan tempat potensi wisata bisa berhasil dan dapat dinikmati keuntungannya bagi masyarakat sekitar.

Saya menghimbau pemerintah Desa dan Kecamatan untuk segera bergerak. Jangan diam saja. Ayo komunikasikan kebutuhan di mana Bapak/Ibu sebagai pemimpin melayani. Masyarakat adalah tuan besar kita yang harus disejahterahkan. Lagi pula, dengan mengelola Kepariwisataan, hal itu akan sangat baik sebgai harta kekayaan yag dapat kita wariskan kepada anak cucu kita turun temurun.

Setiap generasi ada masanya, dan setiap masa ada generasinya. Saat ini, masanya bagi kita semua untuk menjadikan daerah kita sebagai tempat berwisata yang menyenangkan, bukan hanya di internal kita, tetapi bagi orang-orang luar yang datang dari berbagai penjuru dunia. Saat ini, industri pariwisata tercatat sebagai industri terbesar di dunia. Maka, peluang yang sangat luar biasa ini jangan di lewatkan dan disia-siakan.

Mengapa saya mendorong bapak/ibu/saudara untuk segera fokus pada sektor pariwisata, sebab saat ini dunia sudah memasuki era baru, era informasi teknologi dan komunikasi (ICT) yang mana setiap jengkal tanah di bumi ini tidak luput dari sorot mata individu. Dan dimana ada tempat menyenangkan, maka disitu mata dan keinginan/hasrat manusia melihat dan mencoba merasakannya. Inilah yang saya maksud bahwa kepariwisataan cara baru mensejahterahkan masyarakat di daerah. Mengapa daerah, sebab daerah selama ini identik dengan terminologi atau istilah sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota dimana arus uang dan kekayaan lainnya dengan mudah di dapat atau dihasilkan. Stigma orang daerah begitu menempel dalam individu orang daerah sehingga sulit untuk maju. Mulai saat ini (detik ini) saya minta, mari kita merubah paradigma berpikir kita. Saya rindu, kita orang-orang daerah sebagai pilar utama dan sangat penting bagi kemajuan pembangunan Indonesia, dan sektor pariwisata sebagai garapan besar dan utama kita.

(ast/Garuda Pasifik).

Pengamat Kebijakan Nasional/Pariwisata Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: