Kembali ke Nawa Cita: Juru Mudi Ulung Mampu Membawa Kapal Menghindari Badai


Nawa Cita (sembilan agenda Prioritas) Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), terancam tidak akan tuntas dalam lima tahun (2014-2019), jika pemerintahan ini terus menerus dihantam badai dan gelombang persoalan bangsa. Ibarat sebuah kapal, saat ini kapal NKRI sedang berada di tengah samudera dan dihantam oleh gelombang, arus dan badai yang sangat dahsyat. Lalu pertanyaannya, bagaimana nasib kapal tersebut? Tentunya mulai dari Nakhoda kapal, perwira kapal dan anak buah kapal beserta seluruh penumpang berdoa dan berharap bahwa kapal tersebut selamat sampai tujuan. Itu juga menjadi doa saya, agar Kapal NKRI ini mampu menembus badai dan gelombang dahsyat serta terhindar dari pusaran arus yang mampu menenggelamkan kapal ini. Harapan kita semua tentunya, kapal tiba di pelabuhan dengan selamat. Dalam kondisi yang susah payah di lautan ini, dibutuhkan kekuatan kepemimpinan (strong leadership) seorang Nakhoda. Kekuatan apa itu, yakni kekuatan membaca situasi (kondisi dan lingkungan sekitarnya) serta kemampuan membaca peta/petunjuk pelayaran. Itulah visi dan misi seorang pemimpin.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memiliki visi dan misi yang sangat luar biasa yang diterjemahkan dalam sembilan agenda prioritas (Nawa Cita), yang menurut hemat saya, hal ini merupakan spirit pemerintahan Jokowi. Nawa Cita tersebut sebagaimana disampaikan dalam pemaparan Visi dan Misi di KPU (www.kpu.go.id), yaitu:

  1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, melalui politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional yang terpercaya dan pembangunan pertahanan negara Tri Matra terpadu yang dilandasi kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim.
  2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya, dengan memberikan prioritas pada upaya memulihkan kepercayaan publik pada institusi-institusi demokrasi dengan melanjutkan konsolidasi demokrasi melalui reformasi sistem kepartaian, pemilu, dan lembaga perwakilan.
  3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
  4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
  5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia Pintar”; serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dan “Indonesia Sejahtera” dengan mendorong land reform dan program kepemilikan tanah seluas 9 hektar, program rumah kampung deret atau rumah susun murah yang disubsidi serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019.
  6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.
  7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.
  8. Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia.
  9. Memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinnekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga.

Tentunya, Nawa Cita tersebut harus tuntas pada periode pemerintahan Jokowi-JK (2014-2019). Kenyataan yang dijumpai di lapangan, pelaksanaan Nawa Cita suaranya sayup terdengar, justru yang terdengar dengan kencang yakni hantaman gelombang di haluan, buritan, bahkan di lambung kapal. Di tengah kondisi ini, Sang Nakhoda segera bertindak cepat (dalam bahasa Talaud patangga gati = waspada dan bergerak cepat atasi persoalan).

Dalam kondisi bangsa Indonesia saat ini yang panik karena berbagai persoalan melanda kehidupan berbangsa dan bernegara, peran Presiden Jokowi sangat-sangat penting. Saya menyarankan, presiden Jokowi sebagai pemegang utama komando bangsa, kembali harus menyerukan bahwa Masyarakat Indonesia harus fokus kembali kepada Nawa Cita. Agenda prioritas itulah yang harus dilaksanakan dan didukung oleh seluruh rakyat Indonesia. Presiden Jokowi sangat perlu melakukan ini, sebab ini merupakan implementasi Visi dan Misi pemerintahan Presiden Jokowi. Rakyat perlu diingatkan ulang akan adanya Nawa Cita. Hemat saya, pengumuman untuk fokus kembali kepada Nawa Cita, akan meredahkan suhu politik dan ketegangan dalam kehidupan sosial berbangsa dan bernegara.

Pemerintahan Jokowi, tidak perlu terpancing dengan isu-isu murahan yang secara sengaja ditembakkan oleh oknum-oknum yang hanya menginginkan runtuhnya pemerintahan Jokowi. Sebaliknya, fokuslah pada Nawa Cita yang merupakan agenda besar kebijakan nasional dalam mensejahterahkan kehidupan masyarakat Indonesia. Arahkan kembali perhatian masyarakat Indonesia pada visi dan misi, sebab tanpa visi maka rakyat menjadi liar. Mengembalikan perhatian rakyat kepada Nawa Cita, akan membuat kapal NKRI mampu menghadapi badai, gelombang dan arus yang membahayakan.

Langkah-langkah cerdas dan penuh hikmat yang harus dilakukan oleh pemerintahan Jokowi untuk mengatasi situasi saat ini, yaitu:

Pertama, perteguh kebhinekaan dan revolusi karakter bangsa, agar menjadi masyarakat yang santun, menghormati nilai-nilai peradaban bangsa, dan nyatakan bahwa Indonesia adalah milik kita semua tanpa membedakan suku, agama, golongan. Semua pemahaman itu untuk NKRI harus dilebur jadi satu.

Kedua, Pemerintah harus kuat dalam menegakkan keadilan, kebenaran, dan kasih, dan jangan pernah memihak seorang/sekelompok orang/golongan tertentu.

Ketiga, Masyarakat membutuhkan hidup nyaman, makan kenyang dan ketenangan dalam bekerja. Maka adalah kewjiban pemerintah untuk melahirkan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada rakyat yang tertindas.

Saat ini rakyat tengah berharap langkah-langkah cepat dilakukan pemerintah. ketiga hal yang saya sarankan di atas kiranya menjadi pertimbangan untuk bisa diakomodir oleh Sang Nakhoda Kapal NKRI dalam membawa kapal menghindari badai dan menuju pelabuhan pengharapan yang penuh dengan kegirangan.

(Abner Sarlis Tindi/Pengamat Kebijakan Nasional).

2 komentar

  1. suka sekali Pak dengan tulisan ini. Semoga cita2 jadi sekretaris PBB tercapai ya 🙂

    Hanif

    Disukai oleh 1 orang

    1. abnertindi · · Balas

      Terima kasih mas Hannif…Doaku, kesuksesan juga selalu bersama-sama mas bro ke mana saja berada dan melakukan segala aktivitas mulia. insaniwisata…ok

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: