Kepulauan Nanusa di Bibir Pasifik


Pesona kepulauan Nanusa di bibir Pasifik sungguh menggoda. Pulau Nanusa terletak di Kabupaten Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi Utara. Kepulauan Nanusa, merupakan kumpulan 8 buah pulau yang berada di bibir samudera Pasifik, dan juga berbatasan langsung dengan Negara Filipina dan Republik Palau.

Pulau Nanusa terdiri dari empat pulau berpenghuni yakni, Karatung (ibu Kota kecamatan Nanusa), Marampit (pulau terluar NKRI), Kakorotan, dan Miangas (pulau terluar NKRI yang berhadapan langsung dengan pulau Mindanao, Filipina Selatan). Sedangkan pulau kosong yakni pulau Malo, pulau Intata (tempat acara adat Manee), pulau Mangupun, dan pulau Garat (pulau Kalpataru).

Kepulauan Nanusa berada di utara NKRI, sehingga kepulauan ini merupakan pintu gerbang Utara NKRI – Filipina. Posisi strategis ini belum dimaksimalkan oleh masyarakat dan pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat di bidang ekonomi. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) merupakan ancaman serius bagi masyarakat Talaud karena ketidaksiapan sumber daya manusia dan infrastruktur dalam percaturan ekonomi baik di tingkat regional maupun internasional. Mengapa demikian, hal ini terlihat ketika tidak adanya implementasi Perdagangan Lintas Batas antara Indonesia (Talaud) dengan Filipina, padahal telah ada kerjasama yang dituangkan dalam Perjanjian Perdagangan Lintas Batas (Border Trade Agreement).

Hari-hari ini, pembicaraan paling seksi di Talaud yakni pulau Miangas yang merupakan gerbang utara RI (Indonesia-Filipina). Pulau Miangas kedepan akan dijadikan pangkalan TNI untuk mengamankan gerbang utara. Tetapi jangan dilupakan pula bahwa pulau Marampit (kecamatan Nanusa) merupakan sasaran empuk bagi ekspansi ‘politik’ Amerika untuk menguasai Pasifik. Sangat mudah pulau ini jatuh ke tangan pihak asing yang mencoba melakukan infiltrasi ke gerbang Utara. Jadi menurut hemat saya, baik pulau Miangas dan pulau Marampit harus diperlakukan sama dan sejajar dalam hal kesejahteraan (prosperity) dan kemanannya (security).

Selanjutnya, di bidang Pariwisata kepulauan Nanusa memiliki keindahan alam yang tiada taranya. Panorama alam yang sangat eksotik, layak wilayah ini di daulat sebagai putri di bibir pasifik. Karena keindahan inilah, di abad XV (kelima belas) portugis ketika berlayar ke Talaud mengucapkan kata “paradise” artinya indah atau beautiful, sehingga mungkin kata inilah yang akhirnya oleh orang Talaud disebut porodisa.

Masyarakat di pulau Nanusa memiliki ritual unik di antaranya menangkap ikan. Adapun dalam menangkap ikan secara tradisional ini dilakukan secara bersama-sama dan hasil tangkapanpun di bagi secara rata kepada semua peserta yang terlibat, kebiasaan ini dilakukan secara turun temurun. Walaupun hari ini konsep dan tata cara sudah mulai bergeser, namun prinsipnya tetap dimaknai sebagai sebuah kebersamaan dalam petunjuk leluhur dalam bahasa aslinya “naran nu yupun“.

Adapun tradisi menangkap ikan ini sebutannya bermacam-macam, Manee (sebutan masyarakat Kakorotan), Maniu (sebutan masyarakat Karatung dan pulau Marampit), Manami (sebutan masyarakat pulau Miangas).

Masyarakat pulau Nanusa memiliki pola hidup keagamaan dan adat istiadat yang sangat kuat. Masyarakat Nanusa mayoritas beragama Kristen Protestan (hasil penginjilan Zending dari Belanda). Sehingga hal ini menjadi modalitas sosial yang kuat secara khusus bagi persatuan dan kesatuan bangsa dalam mengawal gerbang Utara NKRI.

Masyarakat Nanusa sangat ramah dan tidak gampang diprovokasi oleh isu suku, agama, ras (SARA). Bahkan, dalam memperlakukan saudara-saudara sebangsa yang berbeda keyakinan/agama pun sangat luar biasa toleran. Misalnya, Tahun 2014 silam, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Kabupaten Kepulauan Talaud, Wilayah Nanusa. Bertempat di pulau Marampit dan pulau Karatung, Desa karatung Selatan. Saat itu, bertepatan dengan bulan suci Rahmadhan (bulan puasa). Setelah tiba waktunya hari Raya Idhul Fitri, warga masyarakat desa Karatung Selatan secara beramai-ramai membawa bungkusan makanan untuk dinikmati bersama para mahasiwa KKN. Masyarakat di sana sangat paham dengan apa yang mereka lakukan secara khusus bagi saudara-saudara yang berbeda keyakinan dalam hal penyediaan lauk pauk (etika kehalalan). Dalam berbagai kegiatan/acara apapun yang sifatnya mengundang khalayak ramai (baik muslim maupun non muslim).

budaya lainnya yang ada di pulau Nanusa, yakni tarian Ware. Tarian ini bermula ketika nenek moyang yang ada di pulau Karatung, ingin mengumpulkan warga yang tinggal terpencar. Timbullah ide untuk mengumpulkan mereka dalam sebuah jamuan makan malam. Selesai makan, diadakanlah acara kesenianan (tarian Ware) untuk mengeratkan persaudaraan dan persatuan di antara mereka. Rupanya tarian ini memiliki magnet yang sangat kuat, sehingga warga memutuskan untuk tinggal bersama dalam sebuah komunitas (kampung) yang dinamakan wanalan (rumah) Ginimbale (asal usul nenek moyang orang Karatung – (Tan Tiong Hee, berasal dari dataran China Selatan dan Istrinya Dohila dari Filipina).

Tarian Ware, dilakukan layaknya orang baris berbaris sambil menari. Dalam menari barisan tetap dipertahankan (lurus, dan tidak kacau), selain itu dilakukan dalam empat irama rumba, mars, wals, tenggo. Filosofi dari Ware ini adalah sebagai berikut: Barisan teratur dan rapi, melambangkan persatuan dan kesatuan yang kokoh di antara sesama anak kampung (ararana u wanua). Persatuan tersebut tidak boleh tercabik-cabik apapun kondisi yang dialami oleh masyarakat itu. Irama (musik), bahwa dalam melangsungkan kehidupan, jiwa ararana u wanua senantiasa terdengar indah dan mengalun bak nada-nada merdu dari irama-irama yang dimainkan. Harus tetap seiring sejalan dalam irama yang pasti dan tidak boleh terdengar sumbang dalam melangsungkan kehidupan baik dalam keluarga, bermasyarakat, berjemaat (gereja), berbangsa dan bernegara. Lebih dari itu, bahwa masyarakat Nanusa harus selalu saling tolong menolong, bahu membahu meringankan beban saudaranya apapun alasannya.

Semangat itu terlihat ketika persatuan masyarakat Nanusa menghadapi pasukan Moro (Filipina). Benteng Bentenan di pulau Marampit mejadi saksi bisu saat ini (benteng ini layak dijadikan situs nasional karena kalau bukan benteng ini, maka NKRI batasnya tidak sampai di Talaud), masyarakat Nanusa bahu membahu berjuang mengusir musuh dalam derap dan irama perjuangan yang penuh kekompakan.

Kini, tarian Ware, bisa di lihat setiap bulan Desember (Perayaan Natal), dan masyarakat pulau Nanusa sangat antusias melakukan tarian ini. Khusus untuk Manee (menangkap ikan secara tradisional), acaranya dilakukan setiap bulan Mei (satu tahun sekali).

Kepulauan Nanusa sangat indah, dan saudara silahkan datang untuk menikmati keindahan tersebut, sebagaimana dikatakan oleh para penjelajah bangsa Portugis “paradise“. Bukan hanya Nanusa, tetapi Talaud secara keseluruhan sangat Indah. Ada pulau Kabaruan, Pulau Salibabu, Pulau Karakelang, yang semuanya sangat menawan ibarat putri cantik di bibir Pasifik, yang selalu menggoda para pangeran untuk datang menjumpainya. Ibarat sebuah lagu Talaud yang syairnya berkata:

Porodisa rooen su aramona ne, sidutu na naunganna, wa su tinonda sara napombaru, porodisa, porodisa, wanua u. Su wowon manua darua, woin Sangian, ma tiruangina, wa su tinonda sara napombaru, o taroda, o taroda, wanua u. Artinya….akan di jelaskan oleh masyarakat Talaud, kalau teman-teman akan datang ke sana. Saya mengajak teman-teman untuk ke Talaud, karena wilayah ini merupakan destinasi baru pariwisata Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: